Adieu

Malam ini,
Sebelum terbenam terlalu larut dalam utopi
dan sebelum november berlalu pergi
Aku memilih untuk tak lagi ditemani
oleh rasa yang berarti tapi tak mampu ku beri arti
menandai usainya sebuah ironi
tentang rasa tak berdefenisi
yang selama ini menggerogoti
seluruh energi,
diri dan mimpi

Malam ini,
Pada pusara tanpa batu nisan dan nama
akan kukuburkan rasa dalam-dalam,
bukan karena telah mati,
tapi karena tak sepatutnya dihidupi
Pada altar tanpa cawan suci dan darah,
ingin kukorbankan rasa pelan-pelan,
bukan karena tak lagi menyinari,
tapi karena pasti akan menyakiti.

Selayaknya pusara dan batu nisan yang selalu digenangi air mata
selayaknya ritual pengorbanan yang selalu digaungi rintihan
begitu pula hati ketika menapaki kenosis
begitu pula diri ketika menjalani pengosongan
ada air mata
ada rintihan
ada ketakutan
menjalari seluruh sendi-sendi ragawi dan rukhawi

Doaku akan datangnya kerelaan
sebab kerelaan adalah gerbang kemuliaan
untuk bisa sampai pada titik puncak segala rasa,
titik mahabbah
titik dimana segala pencinta bersurga

Namun,
sebelum segala kompleksitas itu kulakoni,
ijinkan aku berdansa denganmu sebentar saja malam ini,
cukup malam ini saja,
lalu sudah,
dan aku berjanji akan pergi
tanpa perlu menjauhi.

Penghujung November 2011,

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s