Anggap Saja Belum

Kenapa begitu sulit menerjemahkan apa yang bergetar di dalam sini?
Kenapa begitu rumit menafsirkan apa yang berdebar di dalam sini?

Masa bodoh, namai saja itu cinta, sebut saja itu cinta!

Tapi aku tau itu bukan, atau anggap saja belum.

Lalu kenapa dia harus selalu ada dalam setiap jeda?
Lalu kenapa dia mesti selalu nampak pada setiap tapak?
Itu cinta bukan?

Bukan, atau anggap saja belum.

Kemudian berlari pergi menjadi pilihan yang paling masuk akal
Sekedar menguji apa masih ada getar, apa masih ada debar,
Saat  dia tak lagi mewujud pada mata yang kasat
Saat dia tak lagi merupa pada tatap yang bulat

Ternyata lagi-lagi aku kalah

Masih ada mozaik-mozaik wajah serupa bayang  mewujud pada pejaman
Masih ada Potongan-potongan wajah serupa bayang menyata pada lamunan

Masihkah kau mengelak?

Baiklah, aku menyerah

Aku sebut saja itu cinta

Tapi jika memang benar itu cinta
Kenapa aku masih merasa  sakit ketika kudengar dia sudah lebih dulu berkasih?
Kenapa aku masih merasa perih ketika kutau aku tak pantas menjadi kekasih?

Serendah itukah?
Sedangkal itukah?

Ah!

Bisakah tak usah ada tanya?

Atau mungkin lebih baik kubiarkan tak bernama
Lalu kembali tidur dan bermimpi
Tentang datangnya hari yang disebut masa depan
Menyuguhkanku senampan,
bukan hanya nama, namun juga ikatan
tentang janji sehidup semati

Tapi maaf,
Jika boleh sekali lagi aku bertanya,
Apa bisa di sebut cinta jika aku berharap masa depan itu dia?

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s