Buku yang Judulnya Ku Kenali sebagai Namamu

Aku ingat dengan jelas saat kita masih sepasang orang asing tak saling kenal di toko buku kecil, yang terpaksa berebut satu buku, satu-satunya yang tersisa waktu itu. Kau ngotot bahwa buku itu lebih cocok dibeli olehmu karena namamu kebetulan sama dengan judulnya. Aku sebenarnya masih bisa melawan tapi entah kenapa kutahan. Lalu kau pulang sebagai pemenang dengan seyummu yang terang. Saat itu, untuk pertama kalinya aku mengalah untukmu.

Juga saat kita bertemu lagi di bawah sebuah halte tepi jalan, berteduh dengan tubuh sudah sama-sama basah kuyup karena kehujanan. Kau tiba lebih dulu, sedang serius membaca sebuah buku, buku yang judulnya kukenali sebagai namamu. Ku putuskan untuk menegurmu, meski sebelumnya harus menarik nafas panjang berulangkali. Kau menoleh ke arahku, tertegun sejenak, tersenyum, lalu balas menegurku. Aku tenang, kau rupanya masih ingat. Kita mengobrol panjang, tertawa-tawa sampai lupa hujan sudah reda. Saat itu, untuk pertama kalinya aku menemukan keteduhan padamu.

Juga saat kita berdua di sebuah kafe langganan kita. Ku titip pesan pada pemain piano untuk memainkan sebuah lagu kesukaanmu. Lagu yang ingin sekali kunyanyikan untukmu, tapi dengan bijak tak pernah kulakukan karena aku yakin kau akan membenci lagu itu setengah mati setelah mendengarku menyanyikannya.
Saat itu, saat lagu itu mencapai klimaksnya, untuk pertama kalinya aku mengatakan aku mencintaimu.

Ada lagi saat kita berdua dengan pakaian adat berlutut dihadapan kaki-kaki renta, kaki kedua orang tua kita, yang senantiasa menitipkan doa pada Tuhan agar kita yang baru saja dipersatukan bisa bersama selamanya. Mereka memeluk kita dengan penuh haru dan bahagia, begitu pun semua orang yang menyaksikan kita. Saat itu, untuk pertama kalinya aku menangis karenamu.

Juga saat kita membeli rumah sederhana, di pinggir kota. Disana kita menumpahkan segala yang kita punya, melakukan hal-hal yang kita suka bersama-sama, berbagi hidup yang layak, menjadikannya tempat ternyaman untuk merasai pulang dan membaca buku bergantian, tanpa perlu berebutan. Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa betul-betul dilengkapi olehmu.

Dan yang tak akan mungkin bisa aku lupakan, saat aku memutuskan pulang kerja lebih cepat dari biasanya, karena khawatir akan keadaanmu yang sedang sakit di rumah. Kau kudapati berduaan dengan laki-laki yang sering mengantarmu pulang dari kantor, yang katamu teman kerja biasa saat kutanya siapa itu dengan nada cemburu waktu pertama kali kulihat kau turun dari mobilnya. Kalian berdua bermandi keringat, tak berpakaian, di atas ranjang hadiah ulang tahun pernikahan dariku untukmu.

Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa ingin sekali kembali ke saat dimana kita masih sepasang orang asing tak saling kenal di toko buku kecil, yang terpaksa berebut satu buku, satu-satunya yang tersisa waktu itu. Terus melawan, tak menyerah, dan pulang dengan senyuman yang lebih terang. Tanpa peduli buku yang ku pegang itu berjudul sama dengan namamu.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s