Hujan di Wajahku

Diluar sana hujan masih memukuli bumi sangat deras, menggemakan gemuruh, menyamarkan bebunyian lain. Ah, peduli amat! Banjir sekalipun sepertinya tidak akan mampu menggoda fokusku yang terpusat pada sebuah kotak kecil. Kotak kecil berisi sesuatu yang besar. Sangat besar! berlebihan? ya! kotak ini memang lebih dari segalanya.

Malam ini adalah malam ulang tahun pernikahan kami, kunyalakan lilin di atas meja kayu jati berbentuk bulat di ruang tengah dalam rumahku, bukan untuk menghangatkan badanku yang kedinginan, melainkan agar sekedar terkesan romantis saja, aku bahkan tidak kuasa menahan tawa kecil sesaat setelah sumbunya kusuluti api. Entah kenapa cahaya itu selalu saja mampu membangunkan sisi emosional yang memang begitu dominan dalam diriku. Belum pergi tawa kecil itu dari wajahku, setitik air dari mataku jatuh menerpa permukaan kulit tanganku yang terhampar di atas meja. Setitik demi setitik.

Tidak ada kue, tidak ada bunga, tidak ada perayaan, aku tau kau tak suka itu. Buatku tak masalah, sebab tanpa itu semua, kau masih selalu mampu membuatku merasa istimewa. Seperti malam itu, saat aku iseng pura-pura tertidur di depan tv hanya untuk menguji apakah kau akan menggendongku menuju kamar. Malam itu, ketika kau akhirnya benar-benar menggendongku (aku tau kau pasti melakukannya), untuk kesekian kalinya aku berada sangat dekat dengan jantungmu. Dan rasanya selalu saja sama, debarnya, getarnya, itu selalu terasa hangat, seolah-olah debarnya itu berbicara padaku, getarnya berbisik padaku, bahwa “orang yang menggendongmu ini sungguh sangat menyayangimu”. Pipiku memerah tiba-tiba, semerah cahaya lilin yang sedari tadi meliuk-liuk di depanku, mencoba bertahan agar tidak mati diterpa angin yang begitu kuat dan dingin malam ini.

Perlahan-lahan kubuka kotak kecilnya, sebaris pantulan cahaya kuning menyembul keluar dari dalam, terang tapi tidak menyilaukan, menenangkan. Sebuah cincin emas yang tidak begitu mahal, kau beli dengan gaji pertamamu sebagai pemanis ungkapan “maukah kau menikah denganku?”-mu padaku. Aku mengiyakannya dengan air mata. Saat itu, kau juga menghadiahiku sebingkis rasa yang tak akan mungkin mampu kuwakili dengan kata apapun jika saja ada yang menanyaiku namanya, rasanya.

“Bagimu cincin itu adalah segalanya dan bagiku kau adalah segalanya”. Begitu katamu setelah ku tanya kenapa kau rela menceburkan badanmu kedalam genangan lumpur bercampur kotoran di belakang rumah, sesegera mungkin tanpa berpikir sedikitpun, ketika aku meraung-raung karena sudah ceroboh menjatuhkan cincin itu kedalam genangannya. Kali itu, dua buah rasa yang begitu berbeda menyatu dalam tetesan air mata, takut lalu bahagia. Aku yakin cuma kau yang bisa melakukannya, untukku.

Di luar sana hujan sudah reda, tapi di dalam sini hujan mulai mebuncah dengan sangat deras, hujan di wajahku. Lilinnya sebentar lagi akan habis, nyalanya mulai meredup lamat-lamat. Dalam duduk diamku, kupejam mataku, kupasrahkan dingin malam itu menjalari sekujur tubuhku sampai nadiku, lalu kubersitkan doa dalam nuraniku.

“Tuhan, malam ini, genap setahun Kau memanggilnya kembali. Ampuni aku yang tak mampu ikhlas akan ketentuanMu. Aku hanya begitu mencintainya, aku cuma tak mampu tanpanya, aku benar-benar tak bisa merelakannya pergi meninggalkanku begitu saja. Jika saja boleh aku meminta sesuatu, hadirkan dia sesaat saja malam ini menemaniku, atau bawa saja aku ke tempatnya jika itu melawan ketentuanMu. Sebab aku yakin kau juga tau, bahwa malam ini adalah malam ulang tahun pernikahanku, dan aku sangat merindukannya!”

Perlahan kubuka mataku yang masih basah. Kulihat lilin itu semakin habis, nyalanya semakin tipis. Kuhembuskan angin kecil dari bibirku, kupadamkan nyalanya. Sebagai isyarat, hidupku yang telah mati tepat disaat kau pergi tanpa pernah memilih.

Kau adalah hal termegah yang pernah terjadi dalam hidupku. Bahkan, kau lah hidupku

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s