Kepada Engkau Jelmaan Rindu

Hai sayangku, maaf membuatmu menunggu. Malam ini aku pulang terlambat, tadi entah kenapa banyak sekali potongan kenangan bertebaran di jalan. Para pemiliknya sibuk memunguti mereka sampai tak peduli akan menghalangi jalan atau tertabrak kendaraan. Aku memilih berhenti dan memperhatikan. Ada yang menangis karena tak mampu lagi merangkaikannya menjadi kembali utuh. Ada yang memaksa hingga potongannya justru semakin bertambah. Ada yang berhasil lalu bergegas pulang sambil bersorak. Tapi ada juga yang hanya terpaku menunggu potongan-potongan kenangan miliknya terbang tersapu angin malam lalu hilang, menyedihkan. Andai kau ada disampingku waktu itu, akan kukatakan kepadamu aku akan seperti mereka jika kau tinggalkan.

Hai sayangku, sekali lagi maaf membuatmu menunggu. Aku tahu kau sudah tak sabar lagi mendengar ceritaku. Tapi apa boleh malam ini aku absen dulu? aku capek dan ingin langsung tidur saja. Boleh yah?

Pasti sekarang kau sedang merajuk. Lalu bersiap-siap mengancamku dengan kalimat pamungkasmu “tak ada secangkir kopi lagi untukmu”. Kau tentu tahu, betapapun kokohnya pertahananku, aku selalu telak kalah oleh kalimatmu itu. Sebab bagiku, kau satu-satunya perempuan yang mampu membuatku jatuh cinta setiap pagi hanya dengan secangkir kopi.

Hai sayangku, berhentilah merajuk sebab aku cuma pura-pura ingin langsung tidur saja. Sebenarnya, sama seperti malam-malam kemarin, malam ini aku ingin bercerita lagi. Apa kau tak bosan mendengar cerita-ceritaku? tak perlu kau jawab aku sudah tahu. Hanya dengan cara itu kau baru bisa tidur nyenyak, bukan? meskipun terdengar sedikit berlebihan tapi aku yakin kau sungguh-sungguh.

Baiklah sayangku, aku mulai saja. Malam ini aku ingin bercerita tentang rindu milikku yang dulu utuh. Lalu pecah menjadi berpotong-potong rindu. Sengaja kupecahkan, agar aku punya bunyak rindu untuk ku tebarkan ke jalan-jalan, ke taman-taman, ke kedai-kedai kopi, ke bioskop, ke perpustakaan dan toko buku, ke pantai, ke setiap tempat yang biasa aku, kau dan kita datangi. Sisanya kutinggalkan di kamarku, kurekatkan pada empat dinding yang mengelilingi tempat tidurku, sampai penuh.

Sayangku, jangan tanya darimana aku punya rindu, sebab setiap orang punya itu. Meski kebanyakan dari mereka memang lebih suka menjaganya tetap utuh, menyimpannya hingga usang dan berdebu. Tak seperti mereka, aku tak suka rindu yang berdebu, membuatnya terlihat semakin pilu. Rindu tak selayaknya diperlakukan seperti itu, setidaknya menurutku.

Boleh aku teruskan? asal kau tahu, malam ini ceritaku tak seceria biasanya. Entah kenapa aku merasa sudah saatnya mengganti warna, bukan lagi tawa, tapi sesuatu yang lain apapun namanya. Jadi kapanpun kau merasa ingin meratap apalagi menangis, katakan, dan aku akan berhenti sebab aku tak mau emosimu terkuras habis karenanya.

Aku teruskan. Kau tahu kenapa aku menebarkan potongan-potongan rindu milikku? sebab aku tak sanggup lagi berpisah dengan apapun, dengan siapapun. Jadi kutebarkan, agar kemanapun aku pergi akan selalu ada rindu yang kutemui. Sebenarnya ada satu tempat yang sengaja tak kutebarkan rindu barang sepotong pun, sebab tak perlu rasanya ada rindu disana. Sebuah makam yang bertuliskan sebuah nama dan tanggal lahir yang kita kenal.

Besok aku ingin pergi ke sana, menghabiskan hari hingga senja, bukan bercerita, atau menangis seperti mereka, tapi diam saja. Sebab aku tak punya cukup emosi lagi merasai derita. Lalu setelah senja aku ingin pergi ke jalan dan kembali memperhatikan mereka yang sedang memungut potongan kenangan, untuk memastikan bukan potongan rinduku yang mereka bawa pulang. Sebab aku tak ingin lagi merasai kehilangan, meski hanya sepotong rindu.

Sayangku, sudah hampir pagi, sudah waktunya aku tidur. Asal kau tahu, sekarang pagi adalah waktu tidurku, sebab pagi tak lagi istimewa, tak lagi ada secangkir kopi yang mampu membuatku jatuh cinta di tiap sesapannya. Namun sebelum tidur, seperti biasanya, sekali lagi aku ingin bertanya,

Sedang apa kau disana?

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s