Mer(in)du

Kukenali rindu sebab kau yang memintanya sesekali datang bertamu menggantikanmu.
Tapi apa kau tahu nyanyian yang dibawanya selalu pilu?
Tak bisakah sesekali kau membekalinya yang merdu?

Bukan dengan ketuk pada lantai kayu yang langkahnya kuhapal bunyinya sebagai pekik, aku mau ia sekali waktu datang dengan langkahnya yang telanjang.

Bukan dengan deru nafas terburu-buru yang desahnya kuhapal iramanya sebagai rintih, aku mau ia sekali waktu datang dengan desahnya yang tenang.

Ia pasti betah tinggal dalam dada yang sesak oleh radang yang tergenang.
Hingga ia sama sekali tak ingin pulang.

Tapi apa kau tahu?
Tak ada bunyi yang paling merdu selain kedatanganmu.
Ah,
Sepertinya rindu memang akan selalu terdengar sendu, bukan merdu.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s