Nusa Antara

Perkenalkan, namaku Nusa, Nusa Antara lengkapnya. Aku lahir pada tanggal 17 Agustus 66 tahun yang lalu. Tubuhku sekarang sudah renta, tua, tak berdaya, tidak seperti dulu waktu aku masih muda, hampir semua hal bisa kulakukan dengan baik, dengan sempurna, sepertinya. Namun nyatanya, masa mudaku juga kusia-siakan dengan berhura-hura, menghabiskan uang hanya untuk hal-hal yang sia-sia, alhasil, sejurus kemudian aku berakhir dengan banyak utang, banyak sekali.

Aku mungkin tak akan menjadi setidak-berdaya ini jika saja penyakit-penyakit sialan ini tidak menggerogoti seluruh tubuh dan organku. Aku berpenyakit, banyak sekali borok disekujur tubuhku, dikaki, kepala, tangan bahkan selangkanganku. Meskipun begitu, aku juga enggan untuk menyembuhkannya, sebab borok itu bisa menjadi sumber perhatian orang-orang. Aku menjadi sering diperhatikan oleh tetangga karenanya. Aku sering dipinjami uang, uangnya aku pakai beli baju dan celana untuk menutupi borokku, bukannya malah membeli obat borok itu. Aku juga jadi sering mendapat kunjungan, bahkan tak jarang ada yang meminta resep agar punya borok juga. Lucu pikirku. Penyakit dipelihara.

Aku tau, aku harusnya banyak-banyak berdoa, mengingat aromaku yang sudah bau tanah. Tapi, hidup seperti ini, hidup melacurkan diri (aku lupa memberitahukan kalo kerjaanku adalah pelacur), adalah hidup yang asik sekali. Menjual apa saja yang ada padaku agar aku bisa beli sendal untuk kupakai bergaya. Meski itu harkat dan martabatku. Wah, jangan salah, ada banyak bule yang mengantri untuk membelinya (kadang-kadang juga mereka mengambilnya dengan paksa, Cuma-Cuma, ya, terjajah!). Entah kenapa mereka suka sekali sama kepunyaanku dan saudara-saudaraku (saudaraku juga ada yang menjadi pelacur), mungkin karena punya kami belum pernah terjamah, atau memang punya kami memang kelihatan sangat indah, yang sulit didapatkan disana. Entahlah, apapun itu, berteman dengan bule juga cukup membuatku jumawa, walaupun sebenarnya itu adalah kedok terpenjara.

Selain tetangga yang sama begonya denganku (kata apa lagi selain bego yang tepat untuk mewakili kebiasaanku), dan teman bule yang gagah nan sporadis wal oportunisku itu, aku tentunya punya seorang ibu (ayahku tak tau rimbanya dimana, tak pernah aku tau sedikitpun tentang dia). Ibuku bernama Pratiwi, kerjanya cuma menangis, menangis, dan menangisiku. Setiap aku terjatuh atau mengalami bencana, dia pasti menangis, bahkan ketika aku gagal menjuarai sebuah pertandingan sepakbola melawan para tetangga saja dia menangis. Heran aku dengan ibuku, air matanya berlinang bagai air yang tergenang, tidak pernah bisa habis. Sayangnya, tangisan ibuku itu tak sanggup membuatku sedikit merasa berdosa.

Begitulah kehidupanku berlalu, aku memang kelihatan cuek saja, namun, jauh di dasar jiwaku, aku ingin terbebas dari hidupku yang seperti ini, aku ingin sembuh, aku ingin merdeka, tak ingin dijajah, tak ingin terpenjara. Keinginan itu selama ini hanya terkubur, terdidur, pulas, hingga suatu waktu seseorang membangunkannya tepat di saat hari ulang tahunku yang ke 66 tiba.

Tepat dihari itu, seorang anak muda datang menemuiku, katanya aku kelihatan sangat menderita, dia ingin menyembuhkanku, merubah nasibku, sebab hanya dia yang mampu merubahnya, katanya.

Kutanya dia “apa yang bisa kau lakukan untukku anak muda?? Bagaimana kau akan menyembuhkanku??”

Anak muda itu tertawa dengan optimis dan percaya diri, kemudian menjawab

“Aku hanya akan memberikan nama belakangku untuk melengkapi namamu, sebagai simbol keyakinan dan semangat yang aku punya!”

“Apa itu berpengaruh?” tanyaku lagi.

“Ya! Dengan nama belakangku itu kau akan memiliki semangat untuk bebas dan keyakinan untuk sembuh dari penyakit dan penderitaanmu selama ini!” jawabnya lagi dengan cengengesan yang sama.

“Lalu?” aku semakin penasaran

“lalu hiduplah kau sekali lagi, walau tak lagi muda, aku yakin kau bisa berjaya!” dia sekali lagi menjawab dengan spontan, kali ini sambil membusungkan dan menepuk dadanya.

“Baiklah, aku mau mencobanya!”

Melihatku menerima tawarannya, Anak muda itu kelihatan sangat bahagia.

“Bolehkah aku bertemu dengan ibumu?” pintanya tak memelas.

“Kau mau apa?”

“Aku ingin menghapus air matanya, dan aku ingin memintanya agar tidak menangis lagi, karena anaknya, NUSA ANTARA MAHARDIKA tidak akan pernah jatuh lagi!”

Mendengar itu, sontak giliran aku yang menangis, tak pernah sepanjang umurku merasa sesehat ini, sebebas ini, semerdeka ini!! Aku sembuh, Aku Bebas, Aku Merdeka dan Aku yakin akan hidup sekali lagi dengan Jaya!

Sesaat sebelum anak muda itu beranjak pergi meninggalkanku, aku bilang sesuatu,

“Terima kasih, Untung ada kau Anak Muda!”

**********

Anhar dana Putra
17 agusutus 2011,
Sebuah memoir anak bangsa untuk bangsanya.
Sebuah keyakinan bahwa merdeka bukanlah utopia!
Sebuah semangat bahwa Nusantara bisa jaya dan mahardika!

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s