Tak Usah Berdandan

Selama ini kepalamu memang dipenuhi bangunan-bangunan asumsi dari isyarat yang kau simpulkan salah kaprah. Membuka mata atas sentuhanku pada kulitmu, mengabai fakta tentang sentuhan yang sama kudaratkan pada kulit-kulit lain.

Kau harusnya sadar kalau aku ini terlalu self-oriented untuk mendampingimu, kau hanya meyakini apa saja yang menyenangkan, dan menolak yang menjengkelkan. Meskipun bisa saja justru yang menjengkelkan itu adalah kenyataanku.

Aku hidup dalam dunia yang kucipta sendiri, untuk diri sendiri. kau tak lebih dari sekedar agar duniaku tak sepi, kutarik dan kubawa masuk, tanpa pernah berniat peduli bahwa kau juga punya. Jadi tak perlu susah-susah berjanji berbagi dunia denganku, sebab aku tak butuh itu. Sekali lagi aku hanya butuh duniaku sendiri.

Lalu kenapa ada cerita cinta diantara kita? Ah, pertanyaan konyolmu itu selalu saja membuatku geli. Cerita-cerita itu aku rangkai agar kau betah berlama-lama disini, tanpa pernah mau peduli akan sesering apa kau menceritakannya kembali ke mereka nanti. Toh mereka juga hanya pura-pura mendengarkanmu.

Lalu, ketika aku merasa sudah cukup, kau boleh pergi sesukamu, emoh aku menahanmu. Sudah ku bilang kau harusnya sadar bahwa aku terlalu obsesif-kompulsif untuk saling menjaga denganmu. Apa pula kau suruh aku berjanji menjagamu sedangkan mendengar bunyi ketokan dinding di malam hari saja aku gemetaran, meskipun aku tahu bahwa kau lebih suka mendengar aku mengucap janji tanpa realisasi ketimbang merealisasikan sesuatu yang berarti tanpa pernah berjanji.

Sudah jangan bertanya lagi! apa? romantika? lagu-lagu cinta? lilin-lilin? sajak puisi? heh. bukankah begitu umumnya para pecinta melakukan perannya? Aku hanya mencoba menjadi aktor yang hebat. Kalau ternyata aku sukses melarutkanmu? Itu tak lebih dari sekedar konsekuensi beradu akting denganku.

Masih ada? Apalagi? Pengorbanan? Kesetiaan? Ketulusan? Cih. Ternyata masih ada juga yang percaya mitos para pencandu melodramatika itu.

Sudah jangan menangis. Senjata itu sudah tak mempan. Aku tak akan iba. Aku bahkan bisa jauh lebih miris daripada tangismu itu.

Apa? Jahat? Bejat? Siapa pula yang tidak? Ada? Oh ya? Ayo tunjukkan padaku dimana gerangan orang-orang baik yang kau percayai keberaadaannya itu?? Heh?? Di mana? Di televisi?? Di buku cerita anak-anak?? Heh. Naif.

Sekarang hapus air mata mu itu, aku ingin mengajakmu keluar makan malam, ada kejutan yang ingin aku hadiahkan lagi untukmu malam ini.

Sudah tak usah berdandan, ini bukan kencan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s