Bapak Pulang

Tak ada satu manusia pun dalam sejarah yang mampu mematahkan jeruji dengan tangannya sendiri. Pengetahuan yang membuatku sadar tak ada gunanya bermimpi di tahun pertama aku dijebloskan ke dalam sini. Kamar gelap berjeruji dimana aku harus melewati sebelas tahun berperan sebagai terdakwa pembunuh, meski sama sekali tak pernah membunuh siapa-siapa. Pak Amir meninggal karena bunuh diri, beliau tertekan karena menghabiskan begitu banyak biaya dalam pemilihan kepala desa dan meninggalkan banyak utang. Aku hanya kebetulan lewat dan menemukannya sudah tergeletak bergelimang darah.

Kadangkala aku merasa lebih baik ia saja yang terpilih bukannya aku. Aku sama sekali tak bisa membela waktu itu, sebab tak ada satupun saksi, dan aku jelas punya motif yang cukup beralasan sebab aku sempat bertengkar hebat dengan beliau di acara debat kandidat. Aku memilih pasrah dan mengakrabi, hingga akhirnya jeruji itu dengan sukarela membuka diri. Meski aku harus menunggu sebelas tahun lamanya

Kurang lebih setahun lagi, jeruji itu akan terbuka sendiri. Sepuluh tahun dari total sebelas tahun masa tahananku sudah aku lewati. Tak terhitung sudah berapa tetes keringat dan air mata yang ku jatuhkan di tempat ini. Dan malam ini, beberapa tetes air mata turun lagi setelah langkah kaki yang kuhapal bunyinya sebagai langkah seorang sipir itu menghampiri bilik jerujiku.

“Besok kamu akan dibebaskan Syamsul, baru saja ada laporan yang masuk bahwa Pak Presiden sedang berbaik hati. Beliau mengeluarkan kebijakan grasi kepada narapidana yang masa hukumannya bersisa setahun, agar segera bisa berkumpul kembali dengan keluarga”

Kabar itu datang layaknya angin surga yang mendarat di telinga. Mengalirkan sejuk dari kepala hingga ke dada. Mengusir pesing yang memenuhi udara dan menggantinya dengan wewangian nirwana. Ternyata, prediksiku salah, jeruji itu cuma butuh waktu sepuluh tahun untuk diakrabi hingga akhirnya mau membuka diri.

Aku merespon kabar dari sipir itu dengan tangis, yang kemudian ia baca sebagai isyarat untuk meninggalkanku sendiri, lagi-lagi. Tapi, kesendirian malam ini adalah kesendirian yang patut untuk dirayakan, meski dengan air mata.

Besok untuk pertama kalinya, aku akan bertemu dengan anak perempuanku Rima.

*********

Syamsul mendapati dirinya setengah berlari setelah rumah panggung sederhana yang ia kenali sebagai satu-satunya tempat untuk pulang itu menyeruak di ujung matanya. Meski ia sempat berhenti, sekedar menarik nafas panjang untuk menetralkan getaran yang mulai menggeliat di sendi-sendi tubuhnya.

Setelah sepuluh tahun belajar bersabar di dalam penjara, siang ini pelajaran itu musnah begitu ia membayangkan dua wajah yang sebentar lagi akan ditemuinya. Dua buah senyuman ini –satu yang ia cintai, dan satu lagi yang ia rindui— benar-benar meruntuhkan segala bentuk kesabaran yang ia miliki. Senyuman Sitti istrinya dan Rima anak semata wayangnya.

Ia sengaja tak mengabari Sitti akan kepulangannya siang ini. Syamsul merasa perayaan rindu dan pertemuan menjadi lengkap dengan adanya sebuah kejutan. Sekarang ia sudah berada tepat di hadapan tangga rumahnya. Dari suara langkah kaki yang terdengar dari atas rumah, jelas sekali bahwa istrinya sedang berada di rumah. Syamsul merasa bersyukur semua berjalan sesuai rencana.

Sebuah isyarat dari dalam nurani membuat Syamsul berpikir lebih baik menunggu saja di hadapan tangga hingga Istrinya dan tentu saja Rima keluar dari rumah. Tapi, Syamsul tahu bahwa mereka setidaknya butuh alasan untuk keluar. Seketika sebuah ide menyala dalam kepalanya. Syamsul menahan nafasnya agak lama kemudian menghebuskannya lewat belakang hingga menimbulkan suara yang tidak sampai menggelegar tapi mampu mengusik ketenangan penghuni rumah. Sebab tidak ada yang paling dirindukan dari diri seorang Syamsul selain kebiasaan buang anginnya. Sampai istrinya sendiri sepertinya mustahil jika tidak mampu menghapal iramanya, menghapal bunyinya.

Belum juga habis suara angin yang dibuang Syamsul secara tidak wajar, bunyi langkah kaki yang berlari seketika terdengar dari atas rumah, dan kemudian disusul oleh bunyi lengkingan pintu utama rumah itu yang terbuka.

Sitti mematung, tapisan beras dari bambu yang ia bawa jatuh saking lemasnya. Ia lunglai kehilangan seluruh daya menghadapi serangan debar yang begitu kencang dari dalam dadanya. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, mencair, lalu jatuh berupa tetes demi tetes. Syamsul membalasnya dengan tersenyum meski dengan mata yang juga berair.

“Mana anakku?” kata Syamsul memulai upacara perayaan.

“RIMAAAAAAAAAA” teriakan Sitti terdengar seperti teriakan meminta pertolongan

Seorang anak perempuan kecil keluar dari dalam rumah. Tergesa-gesa karena khawatir telah terjadi apa-apa pada ibunya. Sitti cepat-cepat menghapus air matanya. Seolah sudah bersepakat sebelumnya, Rima pun ikut mematung, menjatuhkan boneka yang ia peluk di lengannya. Hanya bedanya Rima merasa belum punya cukup alasan untuk menetitikkan air mata, sebelum pertanyaannya terjawab.

“Bapak?” Tanya Rima berharap dijawab dengan anggukan.

“Iya Nak” Syamsul mengangguk.

Sekarang Rima sudah punya cukup alasan untuk menitikkan air mata. Syamsul bahkan sudah membanjiri pipinya dengan air mata. Ia tak percaya anak perempuannya tumbuh menjadi seorang anak yang lincah dan cantik seperti yang ia saksikan sekarang ini. Membuat Syamsul tiba-tiba saja sadar bahwa Tuhan memang menempatkan surga di dunia lewat apa saja. Dan bagi Syamsul, Rima lah surganya.

Perayaan rindu dan pertemuan pun dimulai. Sitti menggapai Rima, menggendongnya meniti tangga untuk mengantarkan anak perempuannya itu merasai pelukan seorang bapak yang belum pernah ia rasakan.

Tinggal sebiji anak tangga lagi jarak antara Syamsul, Sitti dan Rima menyatu kembali sebagai sebuah keluarga yang utuh, tiba-tiba sebilah badik menembus dada Syamsul dari arah punggung. Mencipratkan darah di wajah dua orang perempuan yang tinggal selangkah lagi memeluk tubuh seseorang yang begitu mereka rindukan. Yang tinggal selangkah lagi memeluk sebuah harapan dan mimpi yang mereka nanti sepuluh tahun lamanya.

Pemilik badik itu adalah Bahri, anak tunggal pak Amir yang menimbun dendam atas kematian Bapaknya. Bahri tahu tentang kepulangan Syamsul dari kenalannya seorang sipir di Lembaga Permasyarakatan tempat Syamsul dipenjarakan, yang memang sudah ia pesan sehari setelah mendiang bapaknya meninggal dunia. Bahri begitu membara dan terbakar hingga waktu sepuluh tahunpun tak sanggup memadamkan kobaran dendamnya.

Dan segera setelah badik kembali masuk ke dalam sarungnya dengan berlumuran darah. Sebuah dendam terbalaskan tanpa belas kasihan, tanpa peduli dengan cinta dan harapan dua orang perempuan yang sedang terpaku di hadapannya. Bagi Bahri kematian Syamsul justru adalah harapan, adalah cinta dalam wujud bakti seorang anak kepada mendiang bapaknya. Sitti dan Rima membelalak kehabisan air mata.

Dan hujan benar-benar turun, menandai usainya perayaan rindu dan pertemuan.

********

Baru kali ini aku tidak mampu menahan diri untuk tidak menitikkan air mata di depan anak perempuanku. Setelah mendengar ia berkata, dengan darah yang masih bergumul di wajahnya.

“Ibu, kumohon jangan kuburkan Bapak. Aku masih ingin memeluknya”

Diterbitkan di Koran Fajar 27 Oktober 2013

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s