Ini Tentang Balada

Ini tentang balada yang ku dengarkan, kau dengarkan, bersama,
Saat mulut kita penuh oleh kata-kata yang menolak dimuntahkan,
Saat mata kita mulai membenci cahaya dan menurunkan tirai jendela,
Jari-jari kita yang membeku, menghangatkan diri dalam ketiak,
sengaja lupa akan sela yang diakrabinya,

Bersisa telinga pada kita,
dan irama dalam udara yang mengiris kulit pelan-pelan.
kulitku, kulitmu, kulit kita,
berdarah keringat,
basah tanpa sudi saling mengikat.

Ini tentang balada yang berkuasa, yang memaksa, yang menyumpal,
Cuping-cuping, pori-pori, dan setiap rongga yang menganga,
Dan kita masih saja geming,
Bersisian, namun sendirian.

Ini tentang balada,
yang terlalu serakah membanjiri udara,
Menenggelamkan telinga,
Membenamkan kita,
Hingga dasar kebisuan,
Hidup, namun kehabisan nafas oleh gelap yang disengaja,
oleh jarak yang lekat, namun bersekat.

Ini masih tentang balada yang jemawa,
Sebab kita telah mati,
Setelah begitu lama saling menanti,
Siapa yang lebih dulu berani, atau mungkin yang sudi,
beranjak dari jarak, membuka mata, mulai bicara, menyatukan sela di jari-jari,
Membunuh balada, dan mulai saling mendengarkan.

Ini tentang balada yang kini bernyanyi sendiri, lupa berhenti.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s