Kontemplasi Tumpul

Kata-kata merindukan mesiu atau peluru, kontemplasi-kontemplasi tumpul merindukan batu asah. Bahasa-bahasa bergerigi, retak di sana sini, lupa mengiris, sementara hal-hal klise berhamburan keluar dari kotak televisi.

Siapa lagi yang terbunuh kata-kata di koran pagi hari ini? omong kosong, begundal-begundal retoris tak bisa mati, mereka abadi. Mereka punya dua pusaka canggih, dasi dan kursi, sementara kita hanya punya puisi, itu juga kalau tak dilipat dan disimpan di lemari. Dari dalam puisi menyebar bau wangi, mengundang tikus-tikus pengerat yang sedang jengah bergumul di selokan. Lalu mabuk sesudahnya. Lalu kembali ke selokan, muntah disana, dan mati tenggelam dalam muntahannya sendiri.

Entah, siapa yang seharusnya jemawa, hal-hal klise yang berhamburan keluar dari kotak televisi, begundal-begundal retoris yang abadi, tikus-tikus pengerat yang mati tenggelam dalam muntahannya sendiri, atau kita yang hanya berpuisi tapi dilipat dan disimpan di lemari?

Jangan di jawab, sebelum kontemplasimu terasah hingga matamu lelah membaca begitu lama.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s