Terpaksa Melankoli

Di gelasku, masih ada setipis ingatan yang kubiarkan saja disesap oleh susu dan kopi.
Lalu mereka protes, mengapa rasanya begitu pahit?
Ya aku diam saja,
merelakan susu dan kopi saling bertengkar di dalam gelas,
sampai ingatan itu habis tersesap oleh kepahitannya sendiri.

Sejak awal aku sejujurnya tidak peduli pada ingatan dan kepahitan,
atau pada susu dan kopi yang hobi bertengkar.
Aku hanya ingin bermelankoli,
Atau lebih tepatnya dipaksa bermelankoli,
oleh retakan dinding yang entah, terlihat seperti bekas sayatan yang menganga.

Siapa yang begitu tega menyayat dinding yang tak berdosa?
Atau barangkali ia tersayat kekokohannya sendiri?
Agar terlihat lemah lalu dimanja?
Dan aku, yang begitu mudah terprovokasi oleh desir-desir melankoli,
yang harus bertanggung jawab memanjakannya?
membasuh lukanya?

Sementara sekotak televisi di hadapanku menjerit-jerit sedari tadi,
Entah oleh kengerian akan bekas luka atau keserakahan pada atensi.
Sejujurnya, aku bisa saja bermurah hati,
dengan membagi kedua mataku sebagai atensi untuk televisi dan kedua tanganku untuk memanjakan dinding.

Tapi bagaimana jika terbalik?
Giliran aku yang tersayat, mendapat bekas luka atau kekeringan atensi?
Apa mereka mau membagi mata dan tangannya untukku?

Kalau sudah begini lebih baik aku kembali ke gelasku.
Dan ah, susu dan kopi sudah berhenti bertengkar,
ingatan itu sudah mereka sesap habis.

Ah, aku bilang tak peduli tadi,
Tapi rupanya masih juga meratapi.
Ingatan, bagaimanapun, masih tetap milik sendiri.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s