Menikahi Maut

Barangkali maut adalah pasangan paling tepat untuk melabuhkan hidup

******

Dari sinilah aku akan mulai menghitung langkahku, sebab buihnya sudah penuh memeluk pergelangan kakiku. Seberapa jauh langkahku dapat menjejak dasarnya yang lembut hingga akhirnya terapung lalu tenggelam? Mungkin pada langkah yang kesepuluh -angka kelahiranku, atau dua puluh -angka favoritku? Mungkin pada yang ke dua puluh lima, aku justru berhenti, menangis agak lama, lalu berbalik arah untuk kembali tanpa menghitung lagi. Atau mungkin ombaknya yang ramah menepuk kulitku yang telanjang akan berang, menjelma raksasa dan menghempaskanku kembali ke tepian, tak jadi tenggelam, lalu menghadirkan sesal sepanjang malam?

Mungkin. Mungkin juga tidak. Atau aku akan langsung tenggelam tanpa sempat memikirkan beberapa kemungkinan yang lain. Jika tidak aku sebutkan bahwa tenggelam juga kemungkinan. Aku menjadi takut, sebab terlalu banyak kemungkinan. Tidak bisakah banyak kemungkinan itu ditukar saja dengan satu kenyataan? Menikahi maut dipenghului laut?

Lalu perkara maut menjadi begitu membingungkan, saat kau mencoba memanggilnya datang padamu berhadap-hadapan. Garangkah ia? Sekejam cerita orang-orangkah? Atau ia justru adalah paradoks yang ramah, selalu menghabisi tanpa pernah melukai? Apapun, sampai saat ini ia masih rahasia yang dipegang erat-erat oleh tuannya hingga nanti tiba waktunya untuk bertatapan. Dan laut? Bagaimana bisa tak kuminta ia sebagai penghulu? Sementara ia adalah kawan yang paling penurut. Mengangguk-angguk saja pada apapun pilihanmu, tak sedikitpun membantah apalagi menghakimimu.

Jika maut datang selalu dengan sambutan dan perayaan, bagaimana jika aku yang mendatanginya? Masihkah ia perlu dirayakan? Jika benar begitu, di sini tak ada siapa-siapa selain jingga di ujung sana yang semakin lama semakin memerah lalu hilang, beserta satu dua ingatan yang sengaja kuternakkan dalam kepala sejak lama. Semoga saja cukup sebagai perayaan, sehingga maut sudi menerima aku sebagai pengantinnya.

Jari-jari kecil air di ujung pantai bergoyang-goyang semakin kencang menggelitik kakiku. Rupanya ada yang sudah tak sabar ingin segera menjadi penghulu. Isyarat untuk berhenti bergolak dengan kemungkinan dan mulai melangkah menuju kenyataan, pernikahanku dengan maut.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh..

Kakiku sudah bergerak maju. Permukaannya yang basah kini sudah menjilat betis, sedikit lagi mencapai lutut. Sementara isi kepalaku memutar kembali semuanya. Seminggu yang lalu, hujan belum juga puas mengguyur saat ban sedan mewah laki-laki itu menggoresi permukaan halaman rumahku yang sudah mulai berlumpur. Sedan itu tepat berhenti dihadapan pintu depan rumahku ketika memuntahkan laki-laki itu keluar dengan ekspresinya yang sedikit meringis sebab sepatu bootnya yang bermerek kini sudah berpeluh lumpur. Ia melangkah dengan dadanya yang membusung seolah dihadapannya ada laki-laki lain yang menantang berkelahi, padahal tak ada siapa-siapa disana selain lumpur yang muncrat dari sol sepatunya, mengotori teras rumahku tanpa merasa berdosa.

Ia adalah rekan bisnis bapak dari kota, datang untuk menagih utang yang menunggak sejak lama (plus bunganya). Bapak tergopoh-gopoh memakai sarung lalu menghampiriku saat ku beritahu bahwa laki-laki itu datang lagi mencarinya. Kali ini aku yang kebetulan membukakan pintu. Belum juga bapak sempat mempersilahkan duduk, tudingan dan ancaman serta merta berhamburan keluar bersama busa putih dari mulut laki-laki itu. Mendesak bapak menuju kondisi tersudut. Aku diam saja, tidak terkejut sama sekali, sebab aku sudah tahu tipikal laki-laki itu. Ia tipe laki-laki yang tak segan melakukan kekerasan untuk memenuhi kehendaknya –apalagi cuma tudingan dan ancaman. Kejadian ini sudah terjadi beberapa kali, cuma kali ini tidak dibumbui basa-basi.

Bapak tak berdaya. Satu-satunya daya yang ia punya adalah lutut yang ia pakai bertumpu untuk memohon keringanan atau tambahan waktu. Aku tahu bapak tidak punya cukup uang untuk melunasi utangnya. Bisnisnya sudah lama bangkrut, sedangkan tabungannya juga sudah amblas membiayai pengobatan ibu, yang rupanya ditakdirkan menyerah pada kanker payudara yang didaulat untuk mengakhiri hidupnya. Keluarga kami hancur setelah ibu pergi setahun yang lalu. Aku berhenti bersekolah dan bapak kesulitan mencari peluang usaha yang baru. Ia sudah cukup tua untuk didatangi inspirasi atau inovasi. Sementara utangnya, meskipun hanya kepada satu orang, mendatangi kepalanya setiap waktu seperti hantu, melilitkan benang tak kasat mata pada lehernya, mencekiknya hingga benapas saja sulit. Aku seringkali mendapati bapak meringis kesakitan sambil memegang dada kirinya ketika sedang sendiri.

Tapi laki-laki itu sudah mencapai ambang batas kesabarannya, ia tak lagi bisa menunggu. Ia sedang menggamit kerah baju bapak ketika tawaran itu -entah dibisiki oleh iblis macam apa- akhirnya keluar dari mulut bapak. Tawaran yang kelak akan menjadi mimpi burukku, bahkan di saat-saat terjagaku.

“Menikahlah dengan anakku. Kau sudah lama membujang, sementara anakku cukup cantik dan ia masih perawan. Dua hal yang selalu didambakan laki-laki waras manapun di muka bumi. Tidak bisa di beli dengan uang, dan saya yakin cukup untuk melunasi utang. Bagaimana?” Bapak melontarkan tawaran itu tanpa meminta persetujuanku, padahal aku berdiri disampingnya saat itu. Laki-laki itu berpikir sejenak lalu mengangguk tanda setuju, dibarengi senyum kecil yang berbicara “aku menang”. Bulu kudukku serempak berdiri menyaksikan kesepakatan itu. Aku menggigil kedinginan.

Sebelas, duabelas, ……., sembilan belas, dua puluh..

Permukaannya sekarang sudah mencapai dadaku, sedikit lagi mencumbu leherku. Ombaknya kini mulai bergejolak, angin rupanya ikut menikmati ingatanku. Aku kemudian terlarut kembali. Beberapa minggu sebelum hari kesepakatan itu, aku menangisi tiga bercak merah pada seprai putih yang membalut kasur tempatku berbaring. Pacarku yang juga teman sekelasku di sekolah menengah atas, duduk disampingku di atas kasur yang sama, menepuk-nepuk pundakku, mencoba meredakan tangisku. Kami baru saja selesai melangkahi garis batas norma sosial untuk pertama kalinya. Bersenggama tanpa menikah sebelumnya.

Sebenarnya kami melakukannya secara sukarela, atas dasar suka sama suka, tanpa ada satupun yang merasa diperkosa. Tapi sesuatu dari dalam dada terus memaksa kelenjar pada mataku untuk menyemprotkan cairan encer bening dari kedua mata. Padahal aku sama sekali tak merasa berdosa, hanya sedikit menyesal. Aku takut Bapak tak mau memaafkanku jika sampai mengetahuinya. Sebab aku sudah mengkhianati khotbahnya, “anak perempuan harus menjaga kehormatannya”. Sefasih apapun aku menyembunyikannya, perempuan tetap tidak bisa menyangkali ketidak-perawanannya, sebab hanya perempuan yang dibekali selaput darah, dan itu berdarah hanya sekali seumur hidupnya. Apa kata bapak ketika dibisiki oleh suamiku kelak tentang itu? Ia pasti akan sangat terpukul dan merasa berdosa pada ibu. Hidupnya akan semakin hancur. Aku menyambar sebungkus rokok pacarku yang tergeletak diatas kasur, menghisapnya sebatang demi sebatang hingga pagi. Pacarku sudah tidur, dan begitu puas mendengkur.

Dua puluh lima..

Besok laki-laki itu akan datang kembali bersama iring-iringan mobil mewah sanak familinya. Melamarku dengan resmi sesuai tradisi. Tapi disinilah aku, berdiri pada pilihanku sendiri. Pilihan yang paling tepat bagi akalku. Memilih untuk menikahi maut sebagai pilihanku sendiri.

Permukaannya kini sudah sejengkal diatas kepalaku. Sekarang seluruh lubang ditubuhku sedang berperang melawan tekanan air dan udara. Tak ada lagi celah untuk dirasuki udara. Meski aku sudah menarik nafas panjang sebelumnya, tentu tak akan bertahan lama. Sebentar lagi laut akan menjalankan perannya sebagai penghulu, menyatukan aku dan maut, pengantinku.

Aku yakin pada pilihanku ini, tak akan ada yang menyesalinya, bahkan Tuhan sekalipun. Tuhan pasti tahu bahwa aku tak akan tega melihat laki-laki itu mencelakai (mungkin membunuh) bapak setelah tahu bahwa aku ternyata tidak seperti yang ia tawarkan, bahwa aku sudah tak lagi perawan. Laki-laki itu tega melakukan apa saja. Dan Bapak, meskipun akan merasa sangat sedih, akan terbebaskan dari sebuah tanggungan hidup, ia tentu akan lebih mudah dan ringan menjalani hidup sendirian. Lalu pacarku? Meskipun ia pernah mengatakan ia begitu mencintaiku, barangkali ia hanya akan menderita selama tiga minggu, selanjutnya ia akan mencari  perempuan lain, berkata ia mencintainya lalu menidurinya, boleh jadi perawan boleh jadi bukan. Yang terakhir aku sendiri? aku tidak mungkin menyesalinya, sebab hidup tidak memberiku cukup alasan untuk mencintainya.

Saat ini, tak ada yang lebih aku cintai selain maut, dan aku ingin menikahinya. Dengan laut sebagai penghulu, serta angin, ombak dan Tuhan sebagai saksinya. Aku tak sabar lagi. Kedua kakiku sudah melayang bersama tubuhku, aku mulai kehabisan nafas. Angin bergejolak hebat meniupkan ombak raksasa di permukaan. Menggelegarkan bunyi dentuman besar di udara. Sepertinya sudah mulai perayaan. Aku pun memejamkan mata, dan lamat-lamat kulihat sesosok bayangan berdiri dengan jubah hitam yang megah.

“Kaukah itu?” tanyaku ragu.

Lalu sesosok bayangan itu menjawab dengan suaranya yang menggema di gendang telingaku yang mulai pecah.

“Selamat datang pengantinku”.

Dalam Pelukan Kampung Halaman, Kota Barru. 4 agustus 2013.

 

Advertisements
Standard

5 thoughts on “Menikahi Maut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s