Pengantar Pesan

Membosankan sekali terjebak di tengah-tengah urusan mengantar pesan-pesan ini. Aku memang pernah berdoa agar diangkat menjadi pegawai negeri, tapi ayolah tuhan, aku tahu engkau pasti tahu bukan ini yang aku mau. Betul kata orang-orang, kadang-kadang memang bercandamu kelewatan tuhan.

Dan beginilah aku setiap hari terperangkap di atas motor butut dengan tumpukan amlop di dalam tas yang menggantung di sisi kanan dan kiri. Apalah amplop-amplop berbentuk dan berwarna monoton ini, perangko-perangko bergambar peta, bangunan, pahlawan dan upacara adat ini, nama-nama dan alamat-alamat acak ini? Apa sudah sebegini dalamnya keliaran imajinasi tenggelam oleh pakem sistem surat menyurat? Bayangkan, jika amplop untuk mengirim pesan tidak hanya berbentuk persegi tapi juga bulat, segitiga, trapesium atau belah ketupat? Terus warnanya tidak hanya cokelat, tapi juga biru, ungu, magenta, maroon, hijau atau abu-abu? Menarik bukan?

Dan perangkonya? Ya tuhan, sejak kapan orang-orang bersepakat bahwa perangko harus bergambar peta, bangunan, pahlawan atau upacara adat? Tidak bisakah mereka berimajinasi lebih liar dari itu? menaruh gambar Pamela Anderson misalnya, atau Maria Ozawa atau Nabilah JKT48? Saya yakin perangko-perangko itu akan berubah menjadi lebih menggairahkan.

Belum lagi nama-nama acak ini? Siapa gerangan orang-orang konservatif yang masih hidup di era komunikasi konvensional surat-menyurat ini? tidakkah mereka sadar bahwa sekarang sudah eranya teknologi? Amiruddin, Safiuddin, Sanusi, Sitti Mardiyah, ya tuhan, Syamsul Bahri, Abdul Abbas, Halija, Muliati, Sukmawati, Alena…. tunggu, Alena? Alena Unga Rilangi? Benar! Aku tak salah baca, amplop ini dikirim oleh Alena, perempuan yang sempat menawan hatiku ketika berkuliah tapi tak pernah berhasil aku ajak kenalan karena tak cukup berani menyapa seorang bidadari secantik ia. Sampai akhirnya kami berdua sarjana dan aku tak pernah lagi bertemu dengannya.

Alena tak gagap teknologi setahuku, ia tentu tahu cara mengirim pesan lewat telepon seluler atau surat elektronik. Ada apa gerangan ia mengirim pesan lewat surat? Apa barangkali itu karena seseorang yang ingin ia kirimi pesan justru yang gagap teknologi? Kepada siapa memangnya surat Alena ini ditujukan? Apa ini? Kepada siapa saja dan dimana saja? Aku salah baca sepertinya, tapi sudah tiga kali mataku ku kucek dan tulisannya masih tetap sama, kepada siapa saja dan di mana saja. Apa lagi ini?

Aku harus membuka amplop ini, aku tak peduli dengan kode etik sistem surat-menyurat, ini extraordinary, extraordinary!

Tolong Aku

Alena dalam bahaya. Ia tidak mungkin menulis surat dengan kalimat bernada seperti itu jika tidak sedang terancam, apalagi surat ini tampaknya ditulis begitu terburu-buru melihat pesan itu tidak ditulis di kertas kosong melainkan di balik kertas partitur kucel yang sudah ditulisi notasi-notasi balok.

Surat ini dikirim hari ini, semoga saja aku belum terlambat.

*******

Dari alamat yang tertulis di amplop sepertinya benar rumah ini adalah rumah Alena. Tapi mengapa rumah ini begitu suram, begitu sepi? Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Rumah ini dikelilingi pagar besi yang sudah berkarat. Pekarangannya yang cukup luas mati, tanaman-tanamannya mengering seperti tak pernah dirawat atau sekedar disirami air. Dinding-dinding rumah ini dipenuhi lumut, catnya melamur bercampur jamur, retak disana-sini. Dari luar rumah ini tampak seperti penjara, mengapa bidadari secantik Alena tinggal di neraka semacam ini?

Kebetulan gerbangnya tak dikunci, aku bisa masuk dengan mudah. Dari dalam rumah ini tampak jauh lebih mengerikan. Atmosfir suram begitu kuat menyesaki udara. Aku yakin kekuatan iblis sudah menguasai rumah ini dan penghuninya termasuk Alena. Sial! Pintunya terkunci, aku tak mungkin mengetuk pintu ini, sebab itu akan menarik perhatian si Iblis dan menggagalkan rencanaku menolong Alena. Aku harus mencari jalan lain.

Pintu belakang! Ide cemerlang. Tapi dimana? Rumah ini begitu luas, dan aku sepertinya sudah cukup lama mengendap-endap mengitarinya. Oh itu ada jendela yang terbuka! Aku bisa masuk lewat jendela ini.

Tunggu.  Siapa itu di dalam sana? ah itu dia, Alena!

Tapi, sepertinya ia kelihatan baik-baik saja, ia tidak dalam kondisi terikat dikursi dengan mulut tersumpal kain sambil berdarah-darah. Di dalam sana juga ia cuma sendirian, tak ada iblis atau siapapun yang menyekap atau menyiksanya. Aneh.

Tampaknya ia tak menyadari ada aku yang mengintipnya dari luar jendela. Ia sedang asik memainkan pianonya sambil bernyanyi sebuah lagu yang belum pernah aku dengar sebelumnya di radio atau televisi. Ah, aku begitu merindukan suara emasnya itu, dan ia masih tetap cantik seperti biasanya, rambutnya yang hitam sepunggung masih secemerlang dulu. Apa aku tegur saja ya? Atau barangkali lebih baik membiarkan ia menyelesaikan nyanyiannya. Tapi lagu ini terdengar begitu sendu, alunan nada pianonya juga begitu pilu. Nada-nada itu membuatku menangkap sebuah penderitaan tak terperi, sebuah teriakan yang menyakitkan, sebuah gelombang rasa kesepian yang mendalam. Bulu kudukku serempak berdiri. Aku serasa ingin rebah dan memejamkan mata. Perempuan ini begitu kesepian.

DHUUUAAARRR!

Ya tuhan! Alena!

Tolong! Toloooooooooong!

Sudah! Tak ada siapa-siapa disini, rumah ini juga begitu luas, tak mungkin ada orang yang mendengarku! Lebih baik aku masuk saja melompati jendela ini kemudian memastikan apa yang telah aku saksikan. Rupanya tadi aku tak menyadari di bawah kursinya ada senapan angin,  saking terpesonanya aku pada kecantikan dan suara emasnya. Aku tak menyangka Alena yang dulu kukenal sebagai perempuan cerdas akan melakukan tindakan tak masuk akal semacam ini!

Kini sudah ada lubang yang menganga tepat di dahinya dan aku masih tercekat dan tak tahu harus berbuat apa. Tapi kenapa? Kenapa ia memilih untuk berakhir dengan cara sekonyol ini? Apa memang manusia, terutama perempuan, bisa menjadi sebegini irasionalnya hanya karena merasa sendiri, merasa sepi? Tidak mungkin, sungguh mengenaskan mengetahui seseorang bisa menjadi begitu menderita justru karena ketidakhadiran siapa-siapa. Bahkan, kehadiran iblis sekalipun barangkali justru akan meringankan sedikit penderitaannya.

Seluruh tubuhku bergetar, suara-suara nyanyian alena, serta alunan nada piano pilunya semakin kuat menggema ditelinga dan kepalaku.

Kesepian adalah kawan/ Temani dan akrabilah selagi kau mampu/ Kesepian bukanlah lawan/ Hadapi dan hidupilah agar kau tahu/

Air mataku mendadak tumpah ruah. Aku tak bisa menahan tangis.

Maafkan aku Alena. Maafkan aku tak sempat menolongmu. Maafkan atas keterlambatanku, lagi-lagi aku tak cukup berani menyapamu, bahkan di saat-saat terakhirmu.

Aku menyesal. Sungguh menyesal, Alena.

Mendadak aku ingin sekali mengirim pesan pada Ia yang sedari tadi menyaksikan diatas sana.

Tuhan, mengapa kau begitu gemar bercanda?

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s