Potret Ibunda

Pekan-pekan pertama aku bekerja sebagai supir pribadi beliau bisa dibilang berjalan dengan cukup lancar dan tanpa hambatan. Aku cukup menikmati dan merasa nyaman menjalani pekerjaan itu. Beliau sama sekali tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku, beliau selalu berupaya membuat segala yang aku lakukan dalam bekerja sebagai supir adalah hal yang aku pilih. Sosok beliau adalah sosok yang tegas, tenang, teduh dan kharismatik.

Namun, ada satu hal yang mengganjal di benakku. Selama ini aku bekerja sebagai supir pribadi beliau, mengantarnya mulai dari kediamannya, di perjalanan, sampai di tujuan, entah itu kantor, lokasi rapat atau lokasi pertemuan, tak pernah sekalipun aku mendapati beliau tersenyum, apalagi tertawa. Meskipun aku dan beliau seringkali terlibat obrolan, aku yang justru banyak bercerita tentang hidupku.

Mungkin karena beliau juga adalah tipe seorang penyendiri dan pendiam, atau mungkin karena beliau sudah bertahun-tahun tinggal sendiri di rumah yang sangat besar dan mewah itu tanpa keluarga. Hanya beberapa orang pembantu dan seorang satpam. Aku hanya bisa menebak-nebak, sebab aku tidak punya cukup keberanian untuk menanyakan langsung tentang hal itu. Aku takut dipecat jika melakukannya

Sehari-harinya, aku berangkat pagi-pagi dari rumahku dengan berjalan kaki menuju kediaman beliau. Kemudian menyalakan mesin mobil dan memanasinya, sambil menunggu beliau selesai bersiap-siap, lalu mengantarknya ke kantor atau tujuan yang lainnya, kemudian menjemput beliau lagi setelah selesai bekerja. Begitu yang kulakukan dalam beberapa bulan terakhir ini. Tidak ada bedanya dengan supir-supir pribadi yang lainnya.

Sampai suatu hari beliau meminta sesuatu yang tidak biasanya.

“Besok, aku mau, Jam 4.30 pagi kamu sudah ada di sini. Aku mau kamu mengantarku ke suatu tempat. Jangan sampai telat”  Tukas beliau.

Aku pun menyanggupinya meskipun cukup heran karena tak biasanya beliau menyuruhku datang sepagi itu. Aku pun pulang dengan rasa penasaran dan kembali esok pagi, tanpa terlambat.

Tanpa berlama-lama aku langsung menyalakan mesin mobil dan memanasinya. Sambil membersihkan debu-debu yang menempel di dinding dan kaca mobil itu. Rasa penasaran masih  menggerogoti kepalaku, sama seperti serangga-serangga yang senantiasa mengerumuni lampu teras rumahku ketika malam datang. Mau kemana beliau sepagi ini?

Segera setelah mesin mobil sudah cukup panas untuk dijalankan, beliau pun naik ke mobil yang kemudian disusul olehku dan kami pun berangkat. Suasana jalan raya di sekitar yang kami lalui cukup tenang, cukup sepi, hanya satu dua mobil yang terlihat melintas, dan satu lagi, tanpa kemacetan yang  sekarang sepertinya sudah menjadi syarat utama sebuah daerah diakui sebagai sebuah kota. Hari masih gelap, pendar cahaya lampu-lampu pertokoan yang bersinergi dengan cahaya lampu jalan, membuat sudut-sudut kota yang biasanya menjemukan, gaduh dan bising, terasa tenang dan damai kali ini. Kedamaian kala itu seolah ingin menyampaikan pesan padaku bahwa pasti selalu ada sesuatu hal yang baik terkandung di balik sesuatu hal yang buruk, kita hanya perlu waktu yang tepat.

Aku masih asik menikmati kedamaian-kedamaian yang terhampar di tiap-tiap sudut jalan yang kami lalui, ketika tiba-tiba beliau menyuruhku berhenti di depan sebuah bangunan tinggi yang kelihatannya sudah sangat tua yang belum selesai pengerjaannya, seperti sudah sangat lama tercampakkan. Gedung itu memiliki sebelas lantai, aku bisa dengan sangat mudah mengetahuinya karena gedung tua itu tak berdinding. Di setiap lantainya ada sebuah tangga yang menjadi penghubung antar lantainya.

Sesaat setelah mobil kuparkir, beliaupun segera turun sembari memintaku untuk ikut turun.“Sepertinya aku sudah sangat tua untuk mendaki ratusan anak tangga. Untuk itu aku memintamu mengikutiku agar kau bisa membopong ku kalau-kalau aku sudah tak sanggup lagi melangkahkan kakiku.” Tukas beliau tetap dengan keteduhannya.Rupanya beliau ingin mendaki puncak gedung itu.

Prediksi beliau terbukti. Baru saja kami menginjakkan kaki di lantai lima, nafas beliau sudah tersengal-sengal. Beliau memang sudah sangat tua, dan bagiku, membiarkan orang setua beliau menaiki ratusan anak tangga sendiri sama saja dengan mebunuhnya secara perlahan-perlahan. Dengan sigap aku pun membopongnya sampai kaki kami akhirnya menginjak lantai delapan. Nafas beliau semakin tidak beraturan, keringatnya bercucuran, wajahnya pucat pasi, dan sepertinya beliau sudah tak sanggup lagi melangkahkan kakinya. Aku juga sudah merasa lelah, sebab usiaku juga tidak lagi muda, nafasku juga mulai tak beraturan. Tapi betapapun rasa lelah dan letih mnghimpit beliau, sepertinya keinginan beliau untuk sampai ke puncak lebih kuat daripada itu semua. Beliau tetap memaksa untuk melangkah meskipun kami berdua tahu kalau beliau sudah tak sanggup lagi melangkah.

Tekad beliau yang begitu kuat akhirnya juga ikut membasuh lelah yang ku rasakan. Aku pun memutuskan untuk menggendongnya sampai ke lantai sebelas, sampai ke puncak. Meskipun aku tahu aku mungkin akan sangat kelelahan setelahnya. Beliau sedang mengejar sesuatu, terlihat dari tekadnya yang sangat luar biasa sedari tadi aku mebopongnya. Dan apapun itu yang beliau kejar di puncak gedung ini, aku tidak akan pernah rela membuat beliau merasakan kekecewaan karena terlambat dan melewatkannya. Selama ini beliau sudah begitu baik padaku, aku harus membalas kebaikannya. Apapun caranya, apapun resikonya.

Akhirnya kami pun tiba di puncak gedung, aku langsung terkapar setelahnya, dan berharap semoga saja umurku tak berakhir di sana. Tiba-tiba, entah kenapa beliau kembali bisa melangkahkan kakinya dan berlari kecil menuju salah satu sisi di atas puncak gedung itu. Beliau seolah tidak menghiraukanku yang sedang terkapar lemas dan setengah mati. Konsentrasi beliau seperti dikendalikan oleh sesuatu yang beliau kejar sedari tadi, membuat beliau lupa akan rasa lelah, acuh akan rasa letih, dan tak peduli akan rasa sakit.

Sesampainya di tepi puncak gedung ini, beliau pun berhenti berlari, beliau hanya berdiri dengan tegap dan tenang, menarik nafas yang dalam, lalu kemudian bergumam.

“Sudah saatnya, sebentar lagi ia datang”

Tiba-tiba aku terpana, terpaku, tak bisa bergerak, bukan karena rasa letih yang kian melumpuhkan organ-organku, bukan karena rasa lelah yang memasung kaki dan tanganku. Tapi karena sebuah keindahan tiada tara yang tiba-tiba saja datang menggapai kedua mataku. Sungguh sebuah karya nyata luar biasa, membahana, megah, agung dan mewah terhampar tepat segaris dengan pandanganku. Membayar segala pengorbanan, kelelahan, keperihan yang aku dan beliau alami sedari tadi. Dan beliau, masih tetap berdiri di tepi puncak gedung ini, merentangkan kedua tangannya, lalu kemudian tertawa. Kurasakan sirat kepuasan di balik tawanya, pesan kebahagiaan, seakan semua kesulitan yang tadi telah beliau alami tak pernah terjadi. Beliau juga menyaksikan apa yang aku saksikan, tapi bedanya, beliau seperti sudah terbiasa dan tau cara menikmatinya. Aku sekali lagi terpana, mulutku seketika menganga menyaksikannya.

Guratan sinar-sinar berwarna emas dari ufuk timur yang terpancar, seketika membungkus segala hamparan awan, langit, gedung-gedung, rumah-rumah, menara, jalan-jalan, dan semua yang dilaluinya, termasuk tubuh beliau. Membuat beliau seolah menyatu dengan keindahannya. Beliau masih menyisakan tawa, seolah menyapa cahayanya, memeluk kehangatannya, mengecap silaunya, dan memuja pesonanya.

Beliau seperti baru saja merengkuh kebahagiaan yang sudah lama tak beliau rengkuh. Membuat aku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia karena baru saja menyaksikan dua hal yang selalu menjadi impian semua orang, keindahan dan kebahagiaan. Sekaligus merasa menjadi orang paling bodoh di dunia karena selama ini setiap pagi telah melewatkan sebuah keagungan alam yang ternyata sungguh luar biasa keindahannya. Ini adalah pertama kalinya aku menyaksikan matahari terbit secara langsung. Aku tak heran jika beliau rela mengorbankan nyawanya hanya untuk mengejarnya, untuk menyaksikannya.

Perlahan-lahan secara tak sadar aku pun berdiri dan berjalan mendekati beliau ke tepi, saking aku menikmatinya, aku juga ingin menyatu dengan keindahannya, tak tahan aku dengan rayuan untuk pergi mendekatinya. Aku sekarang sudah berdiri sejajar dengan beliau. Beliau pun menoleh ke arahku, lalu berkata sesuatu.

“Aku rela menukar apa saja yang aku punya hanya untuk ini”. Kata beliau.

Aku mengangguk, karena aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama.

Kau tahu? dulu ada seorang perempuan yang begitu mencintai aku. Nama perempuan itu adalah Mentari. Ia adalah sosok perempuan yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaanku, betapapun aku selalu mencampakkannya. Selama hidupnya ia melakukan apa saja yang ia bisa untuk memenuhi kebutuhanku, tapi aku tak pernah mau peduli padanya. Ia selalu mencukupi kehidupanku, tapi aku tak menyadarinya, aku menyia-nyiakan cintanya. Sampai suatu ketika semua kebahagiaan yang aku punya direnggut dariku. Istriku pergi membawa anak-anakku. Meninggalkanku sendiri. Aku hancur, hidupku berantakan, tapi perempuan ini, tak pernah menolak keberadaanku. Ia tetap memberikan bahunya untuk menjadi sandaranku. Ia adalah sebaik-baiknya rumah bagiku. Dan tepat di hari yang sama dengan hari ini, akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkanku.”

Beliau terdiam cukup lama kemudian melanjutkan.

“Satu-satunya kenangan yang aku ingat tentangnya adalah ia selalu suka menyaksikan fenomena yang kau saksikan sekarang ini, itu pesannya sebelum pergi, katanya ia akan selalu ada untukku sama seperti mentari akan selau ada untuk semesta. Ah, aku sungguh merindukannya” Lanjut beliau sambil membasuh air mata yang entah kenapa tiba-tiba mencuat dari ujung matanya.

Tanpa kusadari pertunjukan pun selesai, matahari sudah meninggi. Beliau pun memberikan kode untuk membopongnya turun. Segera kuraih tangan beliau dan kulingkarkan di pundakku, lalu membopongnya perlahan-lahan turun melalui tangga yang tadi hampir membunuh kami berdua, sampai akhirnya kami tiba dilantai dasar dan mengucapkan selamat tinggal pada gedung tua itu.

Mesin mobil kunyalakan, dan kami pun mulai melaju. Di perjalanan kulihat dari kaca spion beliau meraih selembar kertas dari sakunya lalu kemudian seperti menulisinya sesuatu, memasukkannya kembali ke dalam sakunya, dan kembali ke posisi duduknya yang semula. Beberapa saat kemudian beliau menyuruhku untuk mengambil sebuah kepingan dvd di laci dasbor mobil dan memutarnya lewat dvd player yang kebetulan terpasang di dasbor mobil.

Terdengar alunan nada piano klasik dari lagu itu, melarutkan kedamaian pada udara yang berada dalam mobil, disusul suara lembut seorang perempuan yang mengalun lirih mengirimkan pesan lewat lirik yang tegas tapi sarat makna. Sebuah racikan musik yang sederhana namun begitu mewah. Beliau terus memintaku mengulang-ulang lagu itu, mungkin saja lagu ini punya kenangan yaang sangat dalam buat beliau, atau mungkin beliau hanya merasa lagu ini cocok untuk menutup hari yang sangat panjang dan melelahkan ini. Sampai akhirnya beliau tertidur.

Lalu tiba-tiba, untuk pertama kalinya, senyuman beliau akhirnya merekah. Beliau tersenyum dalam tidurnya. Membuatku lega dan menarik nafas panjang seketika, sampai-sampai aku ikut tersenyum. Sungguh perjalanan hari ini adalah perjalanan yang sarat emosi. Tak pernah kuduga akan berjalan seperti ini. Tapi, apapun itu, setidaknya aku menarik suatu pelajaran dari perjalanan hari ini, bahwa terkadang segaris senyuman yang tulus, itu mampu membayar setumpuk kepedihan, kesedihan, dan keperihan yang di alami. Semoga setiap orang masih mau memelihara senyumnya untuk di bagi ke orang-orang terdekatnya. Sekali lagi aku pun tersenyum sambil melanjutkan perjalanan pulang menuju kediaman beliau. Dan lagu itu masih bergema mengiringi perjalanan kami.

Setelah melewati perjalanan pulang yang cukup jauh, akhirnya kami pun sampai ke kediaman beliau menjelang sore. Kuteruskan mobil ini masuk melewati gerbang, dan memarkirkannya. Aku pun turun dari mobil setelah mematikan mesin dan segera membangunkan beliau yang rupanya belum sadar bahwa kami sudah sampai. Aku masih berusaha membangunkan beliau ketika sebuah potret menyembul keluar dari dalam saku beliau. Itu kertas yang tadi beliau tulisi sesuatu.

Kertas itu adalah sebuah potret seorang perempuan cacat yang sedang memangku seorang anak laki-lakinya. Di belakang potret itu tertulis sesuatu.

Penyesalanku ibu, tak akan mampu membayar kepedihanmu. Maafkan aku ibu, aku mencintaimu.

Aku akhirnya mengerti semuanya. Semua rasa penasaranku kini terjawab sudah. Kuselipkan potret itu ke saku beliau dan kembali membangunkannya. Beliau mendadak tertawa, rupanya ia hanya mengerjaiku, ia sudah bangun sejak kami tiba. Aku menjadi canggung dan membuat tawa beliau semakin keras. Kami berdua pun menutup sore itu dengan tertawa bersama.

Segera setelah beliau masuk ke dalam kediamannya aku pun pulang sambil tersenyum, dan lagu yang tadi beliau putar berulang-ulang mendadak kembali mengiang-ngiang di telingaku;

Telah letih langkahku dan terasa berat/ Cukup banyak kesalahan kubuat/ Di mimpiku kudengar bunyi suaramu/ Yang memanggil ku pulang kedalam hatimu/ Karena hanyalah hatimu/ Rumah terindah. (Shera – Pulang ke Hatimu)

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s