Di Angka Dua Belas

Riana terpaksa menghabiskan waktu bersama jam dinding di ujung kamar. Tapi jam dinding itu berjalan sedang ia menunggu. Sudah dua kali jarum panjangnya melewati angka dua belas dan Gara, laki-laki yang sedari tadi ditunggunya, belum juga datang.

“Dasar laki-laki, tahunya cuma janji-janji, bangsat!” makinya seraya membanting telpon genggamnya. Entah sudah berapa puluh kali ia menekan nomor telepon Gara dan jawabannya selalu sama, aktif tapi tak menjawab. Riana panik sebab dokter Marni sebentar lagi akan tiba. Ia tak kuat menghadapi dokter Marni sendirian. Tapi, kini sudah kepalang tanggung untuk membatalkan kesepakatan. Ia ambilnya telpon genggam yang sedang asik meringsek di bawah kasur lalu menekan nomor telepon Gara sekali lagi. Dan, diangkat.

“Halo Gara, sialan kamu! Kenapa belum nyampe?” pekiknya setengah berteriak.

“Maaf sayang, mobilku mogok dan harus diderek ke bengkel, aku…”

“Haalaaah ga usah banyak alesan! Buruaaan!” sisa teriakan yang tadi.

“Iya iya sayang, ini udah deket hotel kok, kamar 688 kan?”

Tut tut tut tut.

Riana menutup telponnya jengkel. Tapi ia tak bisa menyembunyikan perasaan leganya, ia menarik nafas panjang. Belum juga nafasnya selesai ia hembuskan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Riana bergegas membukakan.

“Bang… Eh, dokter, maaf, mari silahkan masuk” ia kikuk. Hampir saja ia memaki seseorang yang usianya jauh lebih tua darinya. Dokter Marni ini adalah teman kuliah kekasihnya Gara, dulu di Fakultas Kedokteran.  Dokter Marni mengambil  spesialisasi bedah, sedangkan Gara mengambil spesialisasi penyakit jantung.

“Halo Riana, bagaimana, sudah siap?”

Sialan dokter ini, basa-basi dulu kek. Ketusnya dalam hati. “Tapi dok, Gara belum nyampe nih.”

“Ngga apa-apa, ngga usah nunggu Gara, kita mulai saja.” Dokter Marni mengeluarkan sebuah alas plastik berbentuk persegi panjang dari dalam koper yang ia bawa dan meletakkannya di atas meja, kemudian disusul sepasang sarung tangan karet, sebuah mesin penyedot, alat pengukur tekanan darah, dan sebuah botol berukuran besar juga beberapa perlengkapan pertolongan pertama, seperti kapas, obat penghilang rasa nyeri, alkohol dll untuk ia letakkan di atas alas plastik tadi secara bergiliran dengan sangat hati-hati.

“Tapi dok,” Riana panik. Ia tak tahu harus membantah dengan argumen apa. Keringat dinginnya bercucuran di seluruh wajahnya.

“Sudah, tidak usah cemas Riana, saya tahu apa yang saya lakukan. Kamu mandi dulu gih sana, jangan lama-lama ya” dokter Mirna tersenyum berusaha menenangkan Riana.

“Baiklah dok” Ia menyerah.

Setelah melucuti semua kain yang menutupi tubuhnya, Riana kemudian bersimpuh dibawah shower, menyetel keran dan airnya pun mengguyur menghangat, menyembulkan asap-asap tipis di sekeliling tubuhnya yang telanjang. Riana menangis sejadi-jadinya. Dada dan kepalanya seperti diaduk-aduk sedemikian rupa, mencampur aduk segala jenis rasa yang ada. Tak pernah ia merasa setakut ini menghadapi sesuatu sebelumnya. Belum lagi kekasihnya Gara, laki-laki yang seharusnya berada di sisinya untuk sekedar meringankan beban belum juga menampakkan daun telinganya. Ia menangis sejadi-sejadinya, mengutuk sekutuk-kutuknya, “Bangsat!”

Setelah kurang lebih tiga puluh menit meringkuk, Riana akhirnya keluar dari kotak peraduan emosinya, terlahir kembali sebagai seorang perempuan yang siap menghadapi apa saja. “Aku sudah siap dokter”

“Baik, kalau begitu pakai baju dastermu yang agak longgar lalu berbaringlah di kasur, buat dirimu senyaman mungkin”

Riana segera melakukan apa yang diperintahkan.

“Sebelum kita mulai, saya akan melakukan beberapa prosedur terlebih dahulu. Meskipun saya sudah sangat berpengalaman melakukan ini tapi saya tetap harus mengingatkanmu bahwa apa yang akan kita lakukan ini ilegal, jadi kamu tidak mungkin mendapatkan perlindungan hukum jika terjadi apa-apa. Jadi Riana, apa kamu siap menanggung segala resikonya sendiri?” dokter Marni memulai prosedurnya dengan cukup tenang. Ia memang dokter yang berpengalaman. Riana mengangguk tanpa menggumamkan apa-apa.

Dokter Marni merespon anggukan itu dengan meraih mesin pengukur tekanan darah yang sudah dipersiapkannya tadi, kemudian melingkarkannya di lengan kanan Riana. “Normal, sepertinya kamu memang sudah benar-benar siap. Jadi Riana, setelah melakukan pertimbangan sebelumnya, operasi yang cocok untuk usia kandunganmu yang baru mencapai tiga bulan pertama ini adalah metode penyedotan janin. Mesin penyedot bertenaga kuat dengan ujung tajam ini akan saya masukkan ke dalam rahim lewat mulut rahim yang sudah dimekarkan sebelumnya. Penyedotan ini akan menghancurkan tubuh janin lalu menyedot ari-ari nya dari dinding rahim. Hasil penyedotan berupa darah, cairan ketuban, bagian-bagian plasenta dan tubuh janin akan terkumpul dalam botol yang dihubungkan dengan alat penyedot ini,” Dokter Marni diam sejenak, menangkap ekspresi cemas berlebih di wajah Riana, kemudian melanjutkan.

“Tenang aja Riana, memang metode ini beresiko menyebabkan terjadinya sobekan di dinding rahim jika salah sedot atau jika masih ada sisa-sisa plasenta dan bagian dari janin yang tertinggal di dalam rahim, yang bisa mengakibatkan pendarahan hebat dan terkadang berakhir pada operasi pengangkatan rahim. Tapi jika kamu rileks, tenang dan tak banyak bergerak, kemungkinan terjadinya peradangan dapat kita hindari. Dan Riana, sekali lagi, saya sudah cukup berpengalaman melakukan ini, jadi saya rasa kamu ngga perlu cemas.” Dokter Marni menutup kuliahnya dengan tersenyum. Riana bereaksi, mengangguk tanda ia sudah siap meski masih cemas. Kedua lututnya ia angkat, mengangkang.

Dokter Marni mulai melakukan ritualnya. Memejamkan mata sambil menjalinkan kedua tangannya di depan bibir dan mulai berdoa. Tepat ketika ritual itu ditutup dengan Amin terdengar bunyi ketukan di pintu. Riana bereaksi, ‘itu pasti Gara’ batinnya

“Sudah, tak usah bergerak, biar saya saja.” Dokter Marni beranjak menuju pintu dan membukakan. Benar, itu Gara.

“Halo dok, maaf saya telat. Gimana?” Gara mendahului Dokter Marni  memberikan sambutan.

“Hai dokter Gara, ngga apa-apa. Nih, baru aja kami mau mulai”

Gara bergegas menemui Riana yang sudah berbaring mengangkang di atas kasur. Gara mencoba mengelus-elus dahi Riana tapi ditepis.

“Maaf banget sayang, tadi pas kamu abis nelpon tiba-tiba Istriku telepon, katanya ia mendadak sakit dan pengen dijemput. Jadi, aku harus jemput dia dulu trus mengantarnya ke rumah. Tau sendiri kan dia bakal ngamuk kayak monster kalau ngga diturutin. Aku ngga mau nantinya konsentrasiku menemanimu terganggu sayang.” Gara masih mencoba mengelus-elus dahi Riana, dan masih juga ditepisnya. Riana diam saja tak membalas penjelasannya, tapi membatin ‘bangsat!’. Dokter Marni berdeham. Gara pun menangkapnya sebagai isyarat Dokter Marni harus kembali melanjutkan operasi yang sempat tertunda oleh kedatangannya. Gara akhirnya menyingkir.

Dokter Marni kembali melanjutkan. Ia meraih sepasang sarung tangan karet lalu mengenakannya. Satu persatu apa yang tadi sudah ia jelaskan ia lakukan dengan perlahan-lahan, dengan sangat hati-hati dan teliti. Dokter Marni betul-betul membuktikan perkataannya. Riana sempat meringis kesakitan ketika ujung pipa mesin penyedot mulai melakukan penetrasi ke dalam rahimnya, tapi kembali bisa ditenangkan oleh Dokter Marni dengan mengatakan bahwa itu hal yang wajar. Gara yang sedari tadi mempehatikan menjadi was-was, mendadak kamar hotel yang dilengkapi mesin pendingin udara yang sedang aktif seperti tak berfungsi, ia merasa begitu gerah.

Cairan bening dan merah yang bercampur mengucur deras dari selangkangan Riana, membanjiri alas plastik yang ia tiduri di atas kasur. Riana melemparkan pandangannya ke mata dokter Marni, tapi lagi-lagi Dokter Marni mengatakan itu hal yang wajar. Perlahan-lahan sedikit demi sedikit botol berukuran besar itu terisi sesuatu seperti onggokan daging, darah dan cairan bening, membuat botol itu terlihat seperti berisi jus manusia. Riana tak berani memandang botol itu, sebab sekali saja ia melakukannya ia akan menangis sejadi-jadinya, bagaimanapun manusia yang menjadi jus dalam botol itu adalah bayinya. Riana menutup matanya rapat-rapat, menahan sesuatu yang mulai mencekat tenggorokannya. Gara duduk disebelah Riana, memegang tangannya erat-erat sambil berdoa semoga tak terjadi apa-apa pada Riana.

Dan Dokter Marni pun melucuti sarung tangan karet yang sudah berubah merah, isyarat bahwa operasi penyedotan janin sudah selesai. Gara menatap Dokter Marni penuh pertanyaan. Riana masih menutup matanya berusaha menahan sesak didadanya kini, tubuhnya lemas seketika, ia tak bisa bergerak sama sekali. Dokter Marni membalas tatapan Gara dengan senyuman disusul kuliah singkat tentang obat yang harus Riana konsumsi, efek samping dan tentang operasi yang berjalan lancar tanpa ada sedikitpun malfungsi, semuanya normal. Gara pun melengos mendengar kuliah itu.

“Baiklah, kalau gitu saya pulang dulu, tepat di angka dua belas malam nanti, saya akan datang lagi melakukan tahap finishing. Riana, sampai saya datang kamu harus tetap berada pada posisi ini, dan kamu ngga boleh banyak bergerak atau semua yang sudah kita lakukan tadi akan sia-sia. Kamu kehilangan banyak cairan dan darah, Gara akan menyediakanmu air untuk diminum, kamu ngga boleh nolak sebab tubuhmu butuh pasokan air yang banyak. Oh iya, satu lagi, jangan cemas berlebihan, sebab itu akan memperlemah kondisimu nanti. Paham?”

Sesaat setelah pidato terakhir Dokter Marni itu dibalas anggukan lemas oleh Riana, ia pun pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. Beberapa menit setelah kepergian Dokter Marni ruangan kamar hotel 688 disesaki keheningan, diselipi beberapa rintihan-rintihan kecil dan desahan napas, serta doa-doa yang menggantung di udara, kehilangan arah.

“Tenang Riana, aku udah berdoa kok, kamu pasti akan baik-baik aja” Gara memecah keheningan.

“Cih! Doa katamu? Kamu kira Tuhan bakal ngedenger doa kita setelah melakukan semua ini? Dasar orang tua Tolol! Sudah, pulang sana sama istri dan anak-anakmu, aku eneg liat muka kamu, seenaknya aja nyuruh aku ngelakuin aborsi, bangsat!” balas Riana sinis dengan berbisik. Tubuhnya tak sanggup lagi berteriak. Riana pun memejamkan mata sekali lagi, mencoba terlelap, sementara Gara, dokter Gara menghentikan doanya, menatap rasa sesal yang mencuat dari dalam dadanya. Tepat di angka dua belas malam nanti, mereka berdua resmi sebagai pasangan pembunuh, selain pasangan selingkuh.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s