Permintaan Terakhir

Seumur hidup aku tak begitu sering melakukan pencapaian-pencapaian seperti yang sering orang-orang cantumkan di dalam surat lamaran pekerjaan. Aku termasuk tipikal orang yang lebih suka mengejar hal-hal yang tak suka dikejar oleh orang-orang pada umumnya. Persetan dengan prestasi akademik, apalah itu angka-angka statistik dalam sertifikat, hirearki jabatan, penghargaan, kehormatan, ketenaran, atau omong kosong-omong kosong pencapaian materil yang lainnya. Bagiku, semua tetek bengek itu adalah kekonyolan sosial, absurditas yang nihil sensasi, pakem orientasi yang obsesif atau sederhananya, tahi kerbau.

Aku lebih suka mengejar hal-hal yang berbeda, yang membangkitkan gairah, merangsang gelora manusiawi, memicu deras adrenalin, yang menabrak moralitas dan norma. Oh betapa nyata dan seduktifnya sensasi dari kegiatan-kegiatan itu. Dan di antara semuanya, satu hal yang tak bisa aku tahankan, benar-benar aku tak berdaya sampai ketagihan. Oh ayolah tak usah pura-pura, semua laki-laki normal pasti mengadiksi kegiatan ini, nah iya benar, berciuman. Oh, jangan tanyakan seberapa tinggi intensitas aku menyukai kegiatan saling melumat bibir ini. Sebab aku akan membayar berapun untuk melakukannya, meski hanya sedetik saja. Aku tidak berlebihan.

Tak terhitung sudah berapakali aku berciuman selama hidup. Tanpa bermaksud menyombongkan diri bibirku sudah pernah merasakan segala jenis bibir. Mulai dari bibir tebal, bibir tipis, bibir kecil, bibir merah, bibir kering, bibir pecah-pecah, bibir manado, bibir perawan, bibir janda, atau yang terakhir baru-baru ini bahkan, bibir istri orang. Meskipun jujur kuberitahu, rasanya sama saja-yang berbeda cuma teksturnya, konturnya atau liurnya, tapi kuakui memang aku tetap ketagihan.

Dan kali ini adalah pengalaman berciuman yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan. Tuhan meberkatiku. Kali ini rasanya berbeda, debar di dada yang aku rasakan, jauh lebih kencang ketimbang biasanya. Kali ini, aku diberi kesempatan berciuman dengan bibir AK47, senjata mesin yang termahsyur itu. Tidak, aku tidak bercanda. Di depanku sekarang, berdiri dengan tegap seorang pensiunan tentara yang sedang kesetanan. Sedikit saja ada gerakan tambahan, ia tidak akan tanggung-tanggung memberondong peluru ke dalam tenggorokanku.

Tak ada siapa-siapa di ruangan remang dan lembab ini. Hanya ada pensiunan tentara yang sedang kesetanan, dan aku yang sedang gemetaran. Bukan karena takut, bukan. Tapi karena dingin, iya, karena kedinginan. Sekujur tubuhku basah kuyup. Oh iya, aku sedang telanjang. Pensiunan tentara itu, selain kesetanan tampaknya juga gila.

Ia meletakkan es balok di atas kepalaku dan membiarkannya mencair di sana dengan sendirinya, sambil tertawa-tawa. Bukan cuma itu, ia juga mencabut kuku-kuku ku, mencambuk punggungku, meremas kemaluanku, dan menyetrum leherku, juga sambil tertawa-tawa. Gila.

Tampaknya ia tak mau begitu saja membunuhku, ia ingin aku merasakan sakit yang tak terperi sebelum aku mati. Ia salah, aku sama sekali tak merasa sakit, meskipun rasanya sakit. Ku balas juga dengan tertawa-tawa, membuatnya kesal dan melakukan itu semua sekali lagi, berulang-ulang.

“Kau kira aku bercanda?” hardiknya sambil menjambak rambutku. Memaksaku menatap wajahnya yang penuh codet.

Aku sekali lagi tertawa. Bukannya tak bisa berkata-kata, tapi memang ingin membuatnya jengkel. Dalam kondisi tangan dan kaki terikat seperti ini, mempermainkanya adalah satu-satunya perlawanan yang logis. Aku tak sudi di nisanku nanti tertulis “Orang ini mati tanpa perlawanan”. Ia menghajarku habis-habisan. Seandainya ada cermin di sini, mungkin sekarang aku sudah tidak mampu lagi mengenali rupaku.

“Bagaimana rasanya moncong baja ini? Tak kalah menggairahkan bukan?” ia mencoba mengintimidasi dengan menggoyang-goyangkan moncong senapan itu di dalam bibirku, menggaris goresan-goresan merah perih di gusiku. Rasanya menggelikan, sama sekali tidak menggairahkan.

“Ayo, ayo balas ciumannya, balas, lumat moncongnya, habiskan!” ia masih melakukan hal yang sama. Aku curiga justru ia yang bergairah.

“Bagaimana rasanya? Rasanya sama bukan, sama seperti waktu kau melumat bibir istriku? Atau justru moncong ini lebih membuatmu bergairah? Ayo katakan, brengsek!” ia menutupnya dengan sodokan di tenggorokanku. Aku tersedak. Batuk. Pingsan.

Tapi orang gila ini memang tidak ingin membiarkanku bernafas sedetik saja. Ia mengguyur kepalaku dengan air agar aku sadar, terjaga. Tapi kali ini, moncong senapan itu sudah tidak bermukim di bibirku. Ia sengaja menariknya untuk mendengarkanku menjawab pertanyaannya. Aku sedikit tersenyum, mengangkat kepala dan menatap wajahnya dengan tatapan yang menjajah. Aku ingin ia merasakan apa yang aku rasakan. Menyiksa matanya dengan tatapan. Dan aku berhasil, ia kelihatan takut meski cepat ia alihkan dengan ekspresi bengisnya. Aku tertawa, lagi-lagi. rupanya aku masih mampu memberikan perlawanan. Ia tak tahan dan mencoba membalikkan keadaan.

“Baiklah, aku sudah tak punya waktu bermain-main lagi. Sudah saatnya aku menghabisimu dasar laki-laki biadab tak bermoral!” ia meludahi wajahku.

“Tapi jujur, ku akui kau adalah orang yang berani, sebab sebelumnya tak pernah ada yang berani menggoda istriku mengingat mereka tahu bahwa suaminya adalah aku yang perkasa ini. Hanya kau satu-satunya. Dan kau tahu? aku sangat mengagumi orang yang berani. Makanya, untuk menghormati keberanianmu, aku ingin memberimu satu kesempatan untuk menyampaikan permintaan terakhirmu. Jadi, sebutkan permintaan terakhirmu, percayalah aku akan mengabulkannya.” ia mengakhiri pidato terakhirnya untukku.

Dengan mantap aku pun menyebutkan permintaan terakhirku, setelah puas tertawa. Aku menatapnya cukup lama dan,

“Aku ingin mencium bibirmu!”

Mendadak moncong senapan mesin AK47 itu dengan gesit kembali meringsek masuk ke dalam bibirku. Dan tak ada lagi yang kudengar setelah bunyi desingan peluru yang menghujan dan bunyi dentingan selongsong tembaga yang membentur lantai.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s