Panggung Sandiwara

Tak betah lagi menyimpan kerisauannya itu sendirian, Ia membagi dirinya menjadi dua. Sebagai lawan bicara pikirnya.

“Tak inginkah kita menjadi Tuhan?”

“Bukankah kita sudah dan memang Tuhan?”

“Maksudku, sebenar-benarnya Tuhan”

“Kita adalah sebenar-benarnya Tuhan! Tak ada duanya!”

“Kurang. Kita belum cukup Tuhan”

“Apa maksudnya?”

“Lihat? Kita sendirian. Kita Tuhan siapa?”

Sang kembaran tercekat dan mendadak ikut menanyakan hal yang sama.

“Kita butuh pengakuan, tanpa ada yang mengakui kita Tuhan kita bukan Tuhan”

“Benar, kita harus menciptakan sesuatu! Tapi apa?”

“Panggung!”

“Aha! Di atasnya kita rancang sebuah sandiwara dimana kita akan berperan sebagai Tuhan!”

*******

Miliaran tahun kemudian, ada banyak sekali Tuhan.

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Advertisements
Standard

14 thoughts on “Panggung Sandiwara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s