Monolog dalam Kepala yang berdebu

Malam belum juga larut, mungkin masih butuh banyak kau aduk, selagi hujan sedang deras-derasnya. Matamu menggoda kantuk untuk pulang lebih cepat, tapi kantuk sungguh keras kepala, ia masih ingin bermain dengan satu-dua ingatan katanya.

Ruang sumpek dalam kepala sudah lama berdebu, bertumpuk-tumpuk prasangka berserakan di sana. Jika sudah begitu siapa yang sudi merapikan? Mungkin lebih baik jika ada yang mengajak berkelahi, kepala lawan kepala, saling berbenturan hingga debunya beterbangan.

Sebab kabarnya, prasangka tidak pernah mudah diterka, ia sudah lama hidup sembunyi-sembunyi di dalam mata, telinga, juga kata-kata. Boleh jadi kelak kau menemukannya, meringkuk dalam kepala pemuda yang malas membaca, tapi kau tak berdaya sebab ia juga lihai meloloskan diri

Sebab prasangka kabarnya, juga lihai bergonta-ganti wajah hingga kau kebingungan mengenalinya meski kau pikir sudah menemukannya. Wajahnya punya banyak wajah lain yang beda-beda. Prasangka bisa dengan mudahnya menjelma sabda, fatwa, titah, atau bahkan perintah. Alih-alih bibirmu merekah karena merasa telah menemukannya, kau justru akan kepayahan sebab wajah-wajah itu selalu sulit disangkal.

Dan ah, malam akhirnya larut, ia tak lagi butuh kau aduk. Toh mata juga sudah bosan menunggu pulangnya kantuk. Sudahlah, tinggalkan saja kepalamu yang berdebu berisi bertumpuk-tumpuk prasangka yang menyebalkan itu. Sebab bagaimanapun, di dalam kepala siapapun, prasangka memang terlahir untuk tumbuh menjadi semenyebalkan itu.

Advertisements
Standard

One thought on “Monolog dalam Kepala yang berdebu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s