Percayalah

Source: Fineartamerica.com

Source: Fineartamerica.com

Alih-alih kutengarai sebagai sebuah diorama yang agung, hujan bulan desember menjelma sebuah pledoi kosong yang tak membela siapa-siapa kecuali mereka, para trubadur pemabuk pecandu melankoli yang menggigil dicengkram rumah tawan bernama masa lalu.

Sementara itu, kekalahan sedang merayakan dirinya sendiri di depan meja. Yang tak lebih dingin dari secangkir kopi. Yang tak lebih panjang dari roman melankoli. Yang tak lebih mengawang-awang dari sebuah puisi. Yang menggubah melodi. Yang mengajak semua bernyanyi dalam bait tragedi. Yang lekas-lekas menyepi sebelum hujan-hujan itu menepi.

Dan percayalah, hanya bersamamulah aku menemui kalah yang betah, kopi yag dingin, roman yang melankolis, sepi yang puitis, melodi tragedi yang getir, dan hujan yang lekas menepi.

Percayalah.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Percayalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s